Kisah Seorang Ibu Yang Bermata Satu (Kisah motivasi)

gambar ibu tua bermata satu

Ibuku hanya memiliki sebelah mata, yang menimbulkan rasa benciku terhadapnya. Karena keadaanya, membuat teman-temanku sering mengejekku. 

Selama ini, dia bekerja sebagai koki di sekolah demi menopang hidup keluarga. Saat itu, aku masih duduk di bangku sekolah dasar (SD), lalu ibuku tiba-tiba mendatangiku. Betapa malunya aku. Sungguh tega ia melakukan ini kepadaku.

Aku pun segera membuang muka dan berlari meninggalkannya saat bertemu dengan dia (ibuku). Pada keesokan harinya, di sekolah, teman-temanku mengejekku. Di antara mereka ada salah seorang yang mengatakan, "Ibu kamu bermata satu ya?!".

Di saat itu aku pun berharap agar ibuku lenyap dari pandanganku lagi sesegera mungkin, bila perlu sekalian lenyap dari muka bumi ini.

Sepulang dari sekolah, aku menemui ibuku dan aku mengatakan kepadanya dengan nada cukup keras:

Ibu! Kenapa sih matamu ini hanya satu?! Kalau kau hidup hanya ingin menjadi bahan ejekan teman-temanku, kenapa kau tidak mati saja sekarang...?!

Ibuku hanya terdiam saja dan tak bereaksi apa-apa. Aku pun merasa tidak enak saat itu, tetapi mau bagaimana lagi, apa yang kupendam sampai sekarang ini harus aku katakan. Aku sebenarnya tidak menyangka kalau aku bisa berkata seperti itu sampai melukai perasaannya.

Pada malam hari itu, aku terbangun dari tempat tidurku, kemudian aku menuju dapur untuk mengambil air minum. Di situ aku terkejut melihat ibu sedang menangis terisak-isak, mungkin dia khawatir karena takut membangunkan tidurku. Sesaat itu aku menatapnya dan sesudah itu aku kembali ke kamar lagi. Aku sangat benci ibuku yang menangis hanya dengan sebelah mata.

Aku mempunyai tekad untuk menjadi orang sukses ketika aku dewasa nanti. Aku tekun belajar agar menjadi anak pandai. Kemudian hari, aku meninggalkan ibuku dan kulanjutkan berstudi ke Singapura. Aku menikah dan dikaruniai beberapa anak di sana, dengan jerih payahku aku pun bisa membeli rumah. Di sana hidupku sangat bahagia dan berlimpahan harta. 

Yang membuatku bahagia dari tempat tinggal ini adalah karena aku di sini bisa melupakan ibuku. Namun, pada suatu hari tiba-tiba bel rumahku berbunyi, lalu kubukalah pintunya. Aku terkejut karena melihat seorang ibu tua dengan bermata satu. Anakku pun pada ketakutan melihatnya, rasanya aku bagaikan tersambar halilintar di siang bolong.

Dengan kasar, aku mengusir ibu tua itu. Aku kenal siapa dia tapi aku tidak mengakuinya, lalu ia dengan cepat pergi karena mungkin mengiranya salah alamat.
"Hmm syukurlah kalau dia tidak mengenaliku, aku sudah tidak khawatir lagi dan tidak akan memikirkannya".

Pada suatu hari, aku mendapat undangan reuni sekolah yang dikirim ke rumahku di Singapura. Lalu aku katakan kepada istriku kalau aku harus menempuh perjalanan dinas jauh. Setelah aku menghadiri acara reuni sekolah itu, aku penasaran, akhirnya kulangkahkan kakiku untuk berkunjung ke sebuah gubuk tua yang dulu aku menyebutnya rumah.

Di sana, aku melihat ibuku sedang tergeletak di lantai yang dingin. Namun aku tidak terpengaruh. Di tangannya aku menemukan selembar kertas, "Mungkin ini sepucuk surat untukku." Lalu kubaca:

Anakku, aku merasa hidupku sudah begitu panjang. Dan sepertinya aku tidak akan lagi ke Singapura. Namun, apa aku berlebihan? Jika aku berharap agar kamu menyempatkan waktu untuk menjengukku sesekali? Aku ini sangat merindukanmu nak...?! Aku bergembira sekali saat tahu kau akan datang di reuni sekolah itu. Namun, aku sengaja memutuskan untuk tidak pergi ke sekolah. Demi kamu, aku minta maaf karena satu mataku ini hanya membuatmu malu dengan teman-temanmu.

Kau tahu nak? Ketika dulu kau masih sangat kecil. Kau mengalami kecelakaan parah yang membuatmu kehilangan satu matamu. Aku sebagai seorang ibu, tidak tahan melihat anaknya tumbuh hanya dengan satu mata. Sehingga, kuberikan satu mataku untukmu. Ibu sangat bangga kepadamu karena kamu bisa melihat seluruh dunia dengan mata itu. Aku tidak pernah marah atas semua yang kau lakukan kepadaku. Saat kau memarahiku, aku berkata dalam hati, "Itu karena ia mencintaiku." Anakku, Oh Anakku...!

Berakhirnya kisah sampai di sini.

Baca juga: Kisah sedih seorang ibu yang terhukum.

Penutup.

Sang ibu bisa saja menuturkan sejak dulu apa sebabnya hanya memiliki satu mata. Tetapi, ibu ini memang sengaja untuk tidak mengungkit pengorbanannya, dan hanya memandang sebagai hal yang sudah semestinya dilakukan. Karena, dimanapun seorang ibu pasti rela berkorban apa saja demi anaknya. Dan itu dimulai sejak sang anak berada dalam kandungan. Tak ada rasa nyaman karena geraknya terbatas. Ketika melahirkan pun ibu berani meregang nyawa.

Namun, bilamana penyebab deritanya itu di sampaikan, sang ibu bisa terluka karena dia juga manusia sama semperti kita. Bisa kita bayangkan, setiap kali ibu itu memandang anaknya, rasanya mungkin seperti melihat dirinya sendiri. Jadi bukan bermasud untuk menuntut pamrih karena mata yang dulu di donorkan padanya.

Demikian kisah yang saya tulis, semoga menjadi motivasi untuk kita semua agar senantiasa bakti kepada ibu.

*Kisah ini dikutip dari buku "Surga di depan mata, karya Ustadz Nouval bin Muhammad Al-aidarus" Dan dari sumber media lainnya.

Bagikan Ke: